Interaktif

Rubrik

Artikel Terakhir

Top Download

Random Links

Masykur Abdillah

View : 110 x hits
Join : 05-Aug-2008 22:03:49

Login


Username
Password

Register
Forgot Password

Statistik Situs

Visitors :40440 Org
Hits : 95319 hits
Month : 979 Users
Today : 57 Users
Online : 6 Users

Langganan Artikel Portal KWQ

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

 

Dialog Peradaban Sebagai Solusi Multi Krisis

Selasa, 16 Maret 2010 00:53:56 - oleh : admin

Oleh: Dr. Lalu Supriadi MA

Berbagai bentuk pelecehan dan penodaan terhadap Islam datang silih berganti. Mulai dari kasus Salman Rusdie penulis asal Iran yang telah melukai hati umat Islam dengan bukunya The Satanic Verses, sampai ke tindakan seorang warga Denmark yang membuat karikatur Nabi Muhammad. Disusul baru-baru ini oleh  aksi politikus Belanda Geert Wilders yang memojokkan Islam dengan tayangan film hasil besutannya Fitna.

 

Akumulasi dari peristiwa tersebut telah mencoreng hubungan mesra antara Islam dan barat, baik  dalam tataran kerukunan hidup antar umat beragama atau hubungan diplomatik antar beberapa negara islam dengan barat. Dengan aksinya itu, Wilders menebarkan virus kebencian dan permusuhan antar agama. Pada era keterbukaan saat ini, tindakannya sebagai politisi tentu tidak populer bahkan menuai kritikan dan kecaman dari berbagai pihak.

 

Di sisi lain, reaksi umat Islam yang ditunjukkan melalui demontrasi adalah suatu kewajaran dan keniscayaan sebagai bukti kecintaan terhadap baginda rasul dan agama islam. itu tentunya selama dalam batas-batas tidak melakukan tindakan anarkis.

 

Sekalipun reaksi umat Islam tidak mampu menekan pemerintah Belanda untuk menghentikan aksi Wilders karena alasan kebebasan berekspresi dan mengeluarkan pendapat tetapi paling tidak akan membuat orang-orang untuk berfikir ulang jika berniat melakukan aksi serupa.

 

Paradigma Barat

 

Kalau dicermati, rentetan peristiwa yang terjadi muncul akibat kesalahpahaman antar Islam dan barat. Barat selama ini tidak mendapatkan deskripsi yang utuh tentang Islam sebagaimana disinyalir oleh seorang orientalis barat Wiliam Montogomry Watt dalam bukunya Der Islam, Bd. I, Stuttgart 1980, P. 17 : “Riset obyektif yang telah berlangsung sejak 150 tahun, belum mampu menampilkan wajah islam yang benar di hadapan barat.”

 

Hampir sebagian masyarakat Barat selama ini mengidentikkan islam dengan kekerasan dan kebiadaban. mereka menuduh islam sebagai biang keterbelakangan dan kemunduran. pengidentikan ini diopinikan terus oleh barat melalui media masa, industri perfilman dan institusi pendidikan.

 

Atas dasar ini, maka dialog peradaban adalah satu-satunya solusi untuk menjembatani perbedaan paradigma barat terhadap Islam. itu akan terlaksana jika masing-masing pihak mau untuk sama-sama saling menghormati dan mengakui hak asasi manusia tanpa membedakan warna kulit, ras dan agama.

 

Tesis Samuel Huntington dalam bukunya “the clash of civilizations” yang memprediksi pertarungan peradaban antar islam dan barat merupakan argument yang terbantahkan. Karena tidak semua pertarungan melibatkan dua pihak tetapi terkadang muncul dari intern satu peradaban seperti yang terjadi pada perang dunia ke-1 dan ke-2. Faktor penyebabnya lebih pada kepentingan politik dan ketamakan untuk menguasai sumber daya alam suatu bangsa.

 

Kadangkala juga muncul karena sikap segelintir orang yang memahami agama secara parsial seperti aksi teror dan kekerasan yang terjadi belakangan ini.        

 

Titik Temu

 

Dialog merupakan cara damai dan terbaik untuk menyelesaikan krisis peradaban. Peluang untuk melakukannya masih terbuka lebar. Karena terdapat titik temu yang bisa dijadikan landasan untuk saling memahami.

 

Ajaran masing-masing agama; Islam dan Kristen atau Yahudi  mengimani keberadaan Allah sebagai zat yang menciptakan segala sesuatu. Allah menyeru manusia untuk beriman, berbuat baik dan meyakini adanya sorga dan neraka. itu menjadi spirit bagi umat beragama untuk melakukan kebaikan dan menghindari kejahatan.

 

Juga seruan masing-masing agama untuk mewujudkan nilai-nilai universal seperti keadilan, toleransi, persamaan hak dan lain sebagainya. dan itu sudah menjadi ajaran yang wajib dipatuhi oleh setiap pemeluk agama tanpa terkecuali.

 

Di samping itu, ajaran masing-masing agama menyeru untuk terciptanya perdamaian dan terealisasinya standar keadilan untuk seluruh umat manusia. Kesemuanya  sama-sama mengecam segala bentuk tindak kekerasan dalam mewujudkan tujuan.

 

Sarana

 

Dialog dengan sendirinya tidak akan mencapai hasil maksimal kecuali didasarkan pada kemauan dan keseriusan kedua belah pihak untuk sama-sama saling menghormati budaya dan mengakui hak asasi manusia secara sama. terdapat sarana-sarana penting yang bisa menciptakan kondisi tersebut:

 

Pertama : pendidikan; pendidikan berperan penting dalam mengubah stigma masyarakat terhadap suatu problematika. Kekeliruan cara pandang barat terhadap islam muncul disebabkan ketidaktahuan atau kesengajaan pihak-pihak tertentu yang tidak menginginkan adanya hubungan harmonis antar islam dan barat.

 

Oleh karenanya dibutuhkan sistem pendidikan yang bertujuan untuk menciptakan iklim saling memahami dan menghormati peradaban lain. Rancangan kurikulum pendidikan semestinya bukan bertujuan hanya sebatas pengenalan terhadap peradaban dan kebudayaan masing-masing tetapi lebih jauh untuk menanamkan kesadaran pentingnya nilai-nilai kesamaan antar peradaban. Peradaban boleh berbeda tetapi kerjasama dan penghormatan kepada budaya lain harus dikembangkan   

 

Menghormati peradaban lain bukan berarti kita menerima atau menolak tetapi mengenal dan memahami sikap, tujuan dan kondisi pembentuknya. Karena pada akhirnya peradaban adalah hasil karya manusia yang bertujuan untuk memperbaiki kehidupan dengan cara dan sarana yang berbeda-beda. Nilai-nilai seperti ini yang mesti ditanamkan pada semua level pendidikan. 

 

Kedua : media (baik cetak atau elektronik) : arus globalisasi telah membuat dunia seolah menjadi kecil. Semua peristiwa yang terjadi di berbagai belahan bumi dengan mudah bisa diakses. Media mampu menembus batas-batas ruang dan waktu. Pengaruhnya dalam membentuk opini umum sangat dahsyat. bukti sederhana adalah isu islamphobia yang selalu didengungkan media barat untuk memutarbalikkan fakta dan sejarah Islam.

 

Pendeskripsian islam secara sepihak tentu bertentangan dengan budaya saling hormati dan pengakuan terhadap HAM. Sudah sepatutnya barat menata ulang sistem pemberitaannya terhadap islam. Dan itu akan berjalan sesuai dengan tujuannya jika dikontrol dengan baik.    

 

Ketiga: organisasi internasional. peran organisasi internasional seperti PBB sangat dibutuhkan untuk menciptakan budaya saling menghormati antar peradaban. PBB bisa lebih mengefektifkan semua badan-badan dibawahnya seperti UNESCO untuk mempromosikan peran dan kontribusi berbagai peradaban dalam meningkatkan tarap hidup masyarakat dunia. Sehingga setiap peradaban layak dihormati dan pada waktu yang sama dijadikan sebagai sarana untuk menyebarkan perdamaian dunia.

 

Dialog antar peradaban bukan sekedar basa basi atau retorika formal.Tetapi bisa efektif apabila dibangun atas kemauan serius dari kedua belah pihak untuk mencapai perdamaian, keadilan dan kesepahaman yang tulus. itu menuntut sikap kemanusian untuk menembus tembok-tembok fanatisme, kebencian, kekerasan, luka sejarah, dan kekeliruan persepsi.

 

Semua itu akan terealisasi dengan niat tulus dan kemauan serius dari kedua peradaban untuk bersama-sama saling memanfaatkan titik temu agar tercapai tujuan dan sasarannya. Keberhasilan dialog akan menentukan masa depan peradaban dunia. Jaminan perdamaian, stabilitas internasional dan kerjasama terletak di pundak para  pemimpin dan rakyat untuk berperan aktif. sehingga diharapkan pada akhirnya ia menjadi solusi dari krisis multi dimensi yang mengganggu hubungan antar kedua peradaban.


Dosen UIN Mataram dan pernah berdomisili di Kairo

 

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Artikel" Lainnya

 
   
powered by AuraCMS 2.2 Design by Kaweki.Com © 2008 Disponsori Oleh DetikHosting,