Berbagai bentuk pelecehan dan penodaan terhadap Islam datang silih
berganti. Mulai dari kasus Salman Rusdie penulis asal Iran yang telah melukai
hati umat Islam dengan bukunya The Satanic Verses, sampai ke tindakan
seorang warga Denmark yang membuat karikatur Nabi Muhammad. Disusul baru-baru
ini olehaksi politikus Belanda Geert
Wilders yang memojokkan Islam dengan tayangan film hasil besutannya Fitna.
Akumulasi dari peristiwa tersebut telah mencoreng hubungan mesra antara Islam
dan barat, baikdalam tataran kerukunan
hidup antar umat beragama atau hubungan diplomatik antar beberapa negara islam
dengan barat. Dengan aksinya itu, Wilders menebarkan virus kebencian dan
permusuhan antar agama. Pada era keterbukaan saat ini, tindakannya sebagai
politisi tentu tidak populer bahkan menuai kritikan dan kecaman dari berbagai
pihak.
Di sisi lain, reaksi umat Islam yang ditunjukkan melalui demontrasi adalah
suatu kewajaran dan keniscayaan sebagai bukti kecintaan terhadap baginda rasul
dan agama islam. itu tentunya selama dalam batas-batas tidak melakukan tindakan
anarkis.
Sekalipun reaksi umat Islam tidak mampu menekan pemerintah Belanda untuk menghentikan
aksi Wilders karena alasan kebebasan berekspresi dan mengeluarkan pendapat
tetapi paling tidak akan membuat orang-orang untuk berfikir ulang jika berniat melakukan
aksi serupa.
Paradigma Barat
Kalau dicermati, rentetan peristiwa yang terjadi muncul akibat kesalahpahaman
antar Islam dan barat. Barat selama ini tidak mendapatkan deskripsi yang utuh
tentang Islam sebagaimana disinyalir oleh seorang orientalis barat Wiliam
Montogomry Watt dalam bukunya Der Islam, Bd. I, Stuttgart 1980, P. 17 : “Riset
obyektif yang telah berlangsung sejak 150 tahun, belum mampu menampilkan wajah
islam yang benar di hadapan barat.”
Hampir sebagian masyarakat Barat selama ini mengidentikkan islam dengan
kekerasan dan kebiadaban. mereka menuduh islam sebagai biang keterbelakangan
dan kemunduran. pengidentikan ini diopinikan terus oleh barat melalui media
masa, industri perfilman dan institusi pendidikan.
Atas dasar ini, maka dialog peradaban adalah satu-satunya solusi untuk
menjembatani perbedaan paradigma barat terhadap Islam. itu akan terlaksana jika
masing-masing pihak mau untuk sama-sama saling menghormati dan mengakui hak asasi
manusia tanpa membedakan warna kulit, ras dan agama.
Tesis Samuel Huntington dalam bukunya “the clash of civilizations” yang
memprediksi pertarungan peradaban antar islam dan barat merupakan argument yang
terbantahkan. Karena tidak semua pertarungan melibatkan dua pihak tetapi
terkadang muncul dari intern satu peradaban seperti yang terjadi pada perang
dunia ke-1 dan ke-2. Faktor penyebabnya lebih pada kepentingan politik dan
ketamakan untuk menguasai sumber daya alam suatu bangsa.
Kadangkala juga muncul karena sikap segelintir orang yang memahami agama
secara parsial seperti aksi teror dan kekerasan yang terjadi belakangan ini.
Titik Temu
Dialog merupakan cara damai dan terbaik untuk menyelesaikan krisis
peradaban. Peluang untuk melakukannya masih terbuka lebar. Karena terdapat
titik temu yang bisa dijadikan landasan untuk saling memahami.
Ajaran masing-masing agama; Islam dan Kristen atau Yahudi mengimani keberadaan Allah sebagai zat yang
menciptakan segala sesuatu. Allah menyeru manusia untuk beriman, berbuat baik
dan meyakini adanya sorga dan neraka. itu menjadi spirit bagi umat beragama
untuk melakukan kebaikan dan menghindari kejahatan.
Juga seruan masing-masing agama untuk mewujudkan nilai-nilai universal
seperti keadilan, toleransi, persamaan hak dan lain sebagainya. dan itu sudah
menjadi ajaran yang wajib dipatuhi oleh setiap pemeluk agama tanpa terkecuali.
Di samping itu, ajaran masing-masing agama menyeru untuk terciptanya
perdamaian dan terealisasinya standar keadilan untuk seluruh umat manusia. Kesemuanya
sama-sama mengecam segala bentuk tindak
kekerasan dalam mewujudkan tujuan.
Sarana
Dialog dengan sendirinya tidak akan mencapai hasil maksimal kecuali didasarkan
pada kemauan dan keseriusan kedua belah pihak untuk sama-sama saling
menghormati budaya dan mengakui hak asasi manusia secara sama. terdapat
sarana-sarana penting yang bisa menciptakan kondisi tersebut:
Pertama : pendidikan; pendidikan berperan penting dalam mengubah stigma
masyarakat terhadap suatu problematika. Kekeliruan cara pandang barat terhadap
islam muncul disebabkan ketidaktahuan atau kesengajaan pihak-pihak tertentu
yang tidak menginginkan adanya hubungan harmonis antar islam dan barat.
Oleh karenanya dibutuhkan sistem pendidikan yang bertujuan untuk
menciptakan iklim saling memahami dan menghormati peradaban lain. Rancangan
kurikulum pendidikan semestinya bukan bertujuan hanya sebatas pengenalan
terhadap peradaban dan kebudayaan masing-masing tetapi lebih jauh untuk
menanamkan kesadaran pentingnya nilai-nilai kesamaan antar peradaban. Peradaban
boleh berbeda tetapi kerjasama dan penghormatan kepada budaya lain harus
dikembangkan
Menghormati peradaban lain bukan berarti kita menerima atau menolak tetapi
mengenal dan memahami sikap, tujuan dan kondisi pembentuknya. Karena pada
akhirnya peradaban adalah hasil karya manusia yang bertujuan untuk memperbaiki
kehidupan dengan cara dan sarana yang berbeda-beda. Nilai-nilai seperti ini
yang mesti ditanamkan pada semua level pendidikan.
Kedua : media (baik cetak atau elektronik) : arus globalisasi telah membuat
dunia seolah menjadi kecil. Semua peristiwa yang terjadi di berbagai belahan bumi
dengan mudah bisa diakses. Media mampu menembus batas-batas ruang dan waktu. Pengaruhnya
dalam membentuk opini umum sangat dahsyat. bukti sederhana adalah isu
islamphobia yang selalu didengungkan media barat untuk memutarbalikkan fakta
dan sejarah Islam.
Pendeskripsian islam secara sepihak tentu bertentangan dengan budaya saling
hormati dan pengakuan terhadap HAM. Sudah sepatutnya barat menata ulang sistem
pemberitaannya terhadap islam. Dan itu akan berjalan sesuai dengan tujuannya
jika dikontrol dengan baik.
Ketiga: organisasi internasional. peran organisasi internasional seperti
PBB sangat dibutuhkan untuk menciptakan budaya saling menghormati antar
peradaban. PBB bisa lebih mengefektifkan semua badan-badan dibawahnya seperti
UNESCO untuk mempromosikan peran dan kontribusi berbagai peradaban dalam meningkatkan
tarap hidup masyarakat dunia. Sehingga setiap peradaban layak dihormati dan
pada waktu yang sama dijadikan sebagai sarana untuk menyebarkan perdamaian
dunia.
Dialog antar peradaban bukan sekedar basa basi atau retorika formal.Tetapi
bisa efektif apabila dibangun atas kemauan serius dari kedua belah pihak untuk
mencapai perdamaian, keadilan dan kesepahaman yang tulus. itu menuntut sikap
kemanusian untuk menembus tembok-tembok fanatisme, kebencian, kekerasan, luka
sejarah, dan kekeliruan persepsi.
Semua itu akan terealisasi dengan niat tulus dan kemauan serius dari kedua
peradaban untuk bersama-sama saling memanfaatkan titik temu agar tercapai tujuan
dan sasarannya. Keberhasilan dialog akan menentukan masa depan peradaban dunia.
Jaminan perdamaian, stabilitas internasional dan kerjasama terletak di pundak parapemimpin dan rakyat untuk berperan aktif.
sehingga diharapkan pada akhirnya ia menjadi solusi dari krisis multi dimensi
yang mengganggu hubungan antar kedua peradaban.