Suasana ruangan ber-AC itu tiba-tiba panas
seketika. “Siapa yang tak jengkel bila kita terusik saat bekerja?” Demikian
raungan yang keluar dari mulut Ibu Mursida (42), salah seorang pegawai negeri
di sebuah departemen yang giat bekerja. Sejak tadi dia keluar masuk ruangan,
mengcopy arsip-arsip bantuan di ruang sebelah, karena foto copy yang ada di
ruangannya rusak.
Di tengah-tengah dia bekerja mengurus bantuan untuk
daerah terpencil, beberapa rekan kerjanya malah bergerombol di sofa pojok
ruangan, mengobrolkan rencana mereka berlibur esok hari, yang bertepatan hari
libur.
Berbeda yang dialami Rohmat (36), salah seorang
PNS di salah satu lembaga pemerintahan yang merasa risih dengan seorang rekan
kerjanya. Dari tadi Rohmat melihat si rekan tersebut tak henti-henti bermain
game di tengah-tengah jam kerja.
Pengalaman semacam ini bukanlah satu-satunya
pengalaman yang kita temui. PNS yang disebut-sebut sebagai ujung tombak sebagai
abdi negara yang dibiayai oleh rakyat, yang semestinya melayani masyarakat pada
objek-objek vital, pada kenyataannya, “hampir” semua PNS bertindak tidak
profesional dalam menjalankan tugasnya.
Dalam meningkatkan kompetensi kepribadian,
sosial, profesionalisme, budaya dan disiplin kerja yang tinggi dalam kaitannya
dengan kapasitas suatu pekerjaan, diperlukan manusia bermental teguh dan kuat
pendirian serta malas melalaikan pekerjaannya.
Berdisiplin dalam bekerja, mencerminkan sikap
mendidik diri untuk perbaikan. Namun, bagi seorang pemimpin terkadang muncul
persepsi keliru tentang disiplin. Pemimpin bisa terjebak untuk menggunakan
disiplin guna mempertahankan “status quo” dalam kepemimpinannya atau untuk
mengekspresikan sikapnya terhadap bawahan. Seolah-olah diartikan sebagai
hukuman semata-mata.
Dari pihak bawahan, disiplin telah terlihat
sebagai “hukuman yang mengancam nasibnya”, atau usaha atasan untuk
menghalang-halangi kemajuan dirinya.
Dalam kepemimpinan, disiplin harus diartikan
sebagai “mendidik untuk perbaikan dan menjadi lebih baik”, Bukan diartikan
sebagai hukuman untuk orang yang bersalah. Disiplin tidak hanya diterapkan pada
saat seseorang terbukti bersalah, tetapi dimulai dalam kondisi kerja normal
untuk meningkatkan komitmen dan kinerja.
Mewujudkan Disiplin dalam Kerja
Banyak jalan menuju roma. Demikian pepatah
menyebutkan. Begitu pula sama halnya dengan disiplin, yang dapat diwujudkan
dengan berbagai cara.
Bagi seorang pemimpin kepada bawahannya, seorang
rekan kerja kepada sesama, dan seorang bawahan kepada pimpinan/atasannya,
disiplin dapat diwujudkan dengan memberikan teguran (reprimend).
Teguran dapat diberikan secara bertahap, mulai
dari teguran lisan sampai kepada teguran tertulis yang dicatat secara teratur.
Teguran dapat diberikan bagi kekeliruan yang dinilai ringan. Namun, bila
seseorang malas untuk menegur rekan kerjanya, maka siap-siaplah ia menerima
hukuman (punishment), tersebab hasil pekerjaan rekan kerjanya berantakan.
Pada dasarnya, teguran itu bersifat mengingatkan.
Hanya saja, banyak orang yang tidak menyadari akan itu. Sehingga tidak sedikit,
ketika seseorang menegur rekan kerjanya, bukan malah terima kasih yang
didapatkan, melainkan raut muka yang tidak mengenakkan dibarengi raungan
sangkal.
Setelah memberi teguran, namun tetap saja tidak
ada artinya, berilah peringatan atau ancaman keras perlu diberikan bagi
pelanggaran yang dinilai berat/besar oleh pemimpin. Peringatan atau ancaman
keras harus selalu diberikan dalam bentuk tertulis.
Disiplin yang baik dan benar dalam kepemimpinan
akan selalu membangun serta membawa kemajuan. Pemimpin yang berhikmat akan
selalu menerapkan disiplin dalam hidup dan kerja sehingga membawa dampak
positif bagi kemajuan hidup dan kerja dalam organisasi.
Pada akhirnya, perlulah disadari bahwa disiplin
dalam kehidupan berorganisasi, bekerja, berkelompok,
dan individu merupakan adanya gambaran tekad, kemauan, serta komitmen yang
sedang diejawentahkan. Hal ini menentukan kohesi tinggi dalam mekanisme sosial
yang memastikan hubungan dan kerja sama yang erat, yang secara pasti mengarah
kepada keberhasilan/kesuksesan hidup dan kerja kelompok maupun individu.
===============
Boks 1:
Fungsi dan Gambaran Disiplin
Fungsi khusus disiplin dapat dijabarkan sebagai
peranan penting dalam hidup. Karena, memunculkan dampak positif luar biasa yang
dapat dirasakan dalam lingkungan bekerja. Terutama bagi seseorang pimpinan yang
hendak memberikan contoh bagi bawahannya.
Pertama, disiplin dapat meningkatkan kualitas
karakter.
Kualitas karakter akan terlihat pada komitmen seseorang kepada Allah,
organisasi, diri, orang lain, dan kerja. Puncak komitmen akan terlihat pada
integritas diri yang tinggi dan tangguh. Sikap demikian dapat mendukung proses
pengejawantahan kualitas karakter, sikap, dan kerja. Di sinilah, kualitas sikap
(komitmen dan integritas) ditunjang, didukung, dikembangkan, dan diwujudkan
dalam kenyataan. Komitmen dan integritas akan terlihat dalam kinerja yang
konsisten.
Kedua, memproduksi kualitas karakter dalam hidup
yang ditandai oleh adanya karakter kuat dari setiap orang, termasuk pemimpin dan
bawahan. Apabila pemimpin terbukti berdisiplin tinggi dalam sikap hidup dan
kerja, akan mempengaruhi bawahan untuk berdisiplin tinggi dan menjadikannya
figur.
Dalam prosesnya, disiplin dapat dilukiskan dengan
tiga perbandingan. Satu, Disiplin bagai mercusuar yang membuat nakhoda tetap
siaga akan kondisi yang dihadapi dan
tetap waspada menghadapi kenyataan hidup dan kerja.
Dua, disiplin dapat digambarkan seperti air
sungai yang terus mengalir dari gunung ke lembah dan terus membawa
kesegaran dan membersihkan bagian sungai yang keruh.
Tiga, disiplin bagaikan dinamo yang menyimpan
kekuatan/daya untuk menghidupkan mesin. Apabila kunci kontak dibuka, daya pun
mengalir dan menghidupkan mesin yang mencipta daya dorong yang lebih besar lagi
dan yang berjalan secara konsisten.