Dalam ranah kehidupan manusia, hal
yang paling berharga dan yang paling dicari adalah kesenangan dan kebahagiaan
hakiki. Mustahil dari segala upaya yang mereka perbuat hanya ingin mendapatkan
materi yang merupakan unsur dari tercapainya kesenangan dan kebahagiaan sesaat,
karena tak selamanya materi yang kita peroleh membawa dampak positif yang
membawa diri kita kepada kesengan dan kebahagiaan hakiki. Contoh kecilnya saja
Banyak orang yang kaya akan materi di dunia ini yang stress dan menyebabkan
mereka harusa masuk rumah sakit gara-gara penyakit yang mereka derita.
Tentunya untuk membawa segala upaya
yang kita perbuat terhadap kesenangan dan kebahagiaan adalah rasa puas dan
bangga akan apa yang telah kita perbuat, pastinya kita tidak mungkin
mendapatkan kepuasan itu tanpa menenemen waktu. Karena dengan menejemen waktu
yang terpatlah upaya untuk menjadikan segala upaya yang kita perbuat bisa kita
nikmati dengan rasa puas dan rasa bangga. Dalam artian puas disini adalah
keinginan hati nurani kita tercapai.
Menejemen waktu yang tidak tepat kita lakukan akan membawa dampak negatif yaitu
dampak buruk yang akan ditimbulkan. Utamanya sikap kurang dewasa yang akan kita
alami, alasannya sederhana saja, bagaimana kita akan melaksanakan tugas kita
sebagai manusia dengan baik dan istiqomah jika kita tidak memenej waktu dengan
baik.
Terbengkalailah segala aktifitas
yang akan kita kerjakan.jika menejemen waktu dalam kehidupan kita tidak
dilaksanakan dengan baik dan istiqomah.
Tentunya, institusi-institusi pendidikan sangat berperan sekali dalam
pelaksanaan menejemen waktu yang tepat dan mengarah. Tapi, tidak semua
institusi-institusi pendidikan itu bisa berperan dengan baik dalam menejemen
waktu, ironisnya banyak institusi pendidikan di tanah air khususnya memandang
menejemen waktu hanya cukup direalisasikan dalam ruang kelas saja
Terbukti ketika siswa ataupun siswi
di lembaga pendidikan negeri setelah mereka keluar dari ruang kelas, lembaga
pendidikan negeri lepas tangan artinya lepas tanggung jawab dari apa yang
mereka perbuat. Maka jangan disalahkan jika banyak para pelajar rusak moralnya,
anarkisme dikalangan remaja pelajar terjadi di mana-mana, pergaulan bebas yang
mengarah kepada seks bebas menjadi kegiatan rutinitas mereka di luar sekolah.
Jika moral remaja kita rusak maka jangan diharapkan untuk menjadi generasi
penerus bangsa yang kuat.
Beda halnya dengan institusi
pendidikan yang disebut pesantren (Pondok Pesantren). Tidak hanya pendidikan
agama saja yang dipelajari, melainkan menejemen waktu jadi prioritas utama dari
pesantren. Menejemen waktu di Pondok Pesantren lebih dikenal dengan sebutan
disiplin waktu, jika disiplin waktu berjalan dengan baik dan istiqomah maka
segala aktifitas di Pondok Pesantren akan terlaksana dengan baik dan mengarah.
Beribadah, Belajar, Berlatih dan Berprestasi (B4) akan terealisasi, intinya
jika hidup kita ingin lebih bermakna B4 itu jadi kunci utamanya dengan
berlandaskan kepada disiplin waktu. Lebih lagi sikap mandiri atau dalam bahasa
lain sikap dewasa akan bisa kita raih, sikap dewasa ini bukan ditentukan oleh
umur. Karena umur tidak menentukan kita bisa bersikap dewasa.
Sikap mandiri juga menjadi
prioriatas utama pesantren, hidup mandiri jadi dambaan setiap manusia, namun
tidak semua manusia bisa meraih kemandiriannya jika tidak dilatih mulia dini.
Hal ini sudah direalisasikan oleh Pondok Pesantren sejak berabad-abad yang
lalu. Santrinya diajari bagaiaman beribadah, belajar, berlatih dan berprestasi.
Artinya, segala bentuk pola hidup semuanya diajari di Pondok Pesantren. Makanya
bapak Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara sangat menjunjung tinggi nilai
pendidikan Pondok Pesantren.
Institusi pendidikan yang berlebel
Islam (Pondok Pesantren) ini, mempunyai pandangan yang cerah kedepan yaitu
untuk mencetak generasi muda yang kuat baik dalam keimanan, materi, kesehatan
lebih khususnya lagi dalam pendidikan, melalui jalinan komunikasi dan
koordinasi sambil mengusung semangat izzul Islam wal Muslimiin (kemuliaan Islam
dan kaum Muslim) secara konsisten. Karena, Al-Qur’an telah dengan jelas-jelas
mengingatkan kita supaya jangan meninggalkan generasi yang lemah baik dalam
keimanan, materi, kesehatan, maupun pendidikan (QS. 4:9). Hal ini sudah
sewajarnya memicu kaum Muslim.
Akan tetapi, institusi Pendidikan
Yang berlebel Islam (Pondok Pesantren) masih dianak tirikan oleh kalangan
pemerintah. Apalagi Pondok Pesantren yang benar-benar tidak menggunakan sistem
pendidikan Nasional dan masih setia dengan sistem lokalnya. Bisa dijamin
pemerintah setempat khususnya, akan bertindak yang tidak senonoh dengan memberi
kabar miring ijazah tidak diakui dan lain sebagainya. Sebenarnya pemerintah
yang berbuat dan bersikap seperti itu adalah pemerintah bodoh yang memandang
ijazah sebagai tolak ukur kesuksesan manusia hidup, padahal tidak.
Oleh karenanya, sebelum penulis
mengakhiri tulisan ini perlu kiranya belajar lebih dewasa lagi untuk menyikapi
segala persoalan hidup. Khususnya bagi kalangan yang mendang ijazah sebagai
tolak ukur kesuksesah hidup.. Wallahu A’lam Bisshowab.
Dimuat di Radar Madura (jawa pos grous) 25 Oktober 2009
*penulis adalah ketua KWQ
kirim ke teman | versi cetak