Pemilihan presiden Iran 12 Juni lalu telah memporak porandakan
stabilitas perpolitikan Iran. Ribuan demonstran turun ke jalan menentang hasil
Pemilu Presiden 12 Juni lalu yang menyatakan Mahmoud Ahmadinejad sebagai
pemenang. Suporter Mir Hussein Mousavi, rival berat Ahmadinejad dan warga Iran dari
partai Hijau yang mengaku percaya akan "perubahan" melakukan aksi sporadis
di sepanjang jalan ibu kota Iran menggunakan warna hijau sebagai simbol
pergerakan mereka. Salah satu aksinya menuntut diakan pemilu ulang
Hal ini ditengarahi presiden terpilih Mahmoud Ahmadinejad yang juga
presiden incumbent menggunakan kekuasaannya untuk meraup suara lebih. Mahmoud
Ahmadinejad sendiri dalam siaran pressnya seusai memenangi pemilihan presiden
menyatakan bahwa isu adanya kecurangan dan upaya untuk mengadakan pemilu ulang
adalah opini media Barat. Menurutnya media-media tersebut berupaya –membantu-
rival berat presiden incumbent Mahmoud Ahmadinejad , Mir Hussein Mousavi yang
terkenal lebih terbuka dengan Barat menjadi nomer satu di Iran
Mahmoud Ahmadinejad adalah sosok konservatif anti Barat. Sejak
memangku jabatan sebagai presiden tahun 2005 hubungan Iran dan Barat semakin
memburuk bahkan terputus. Inilah kecaman yang selalu dilayangkan oleh rival
politiknya semasa memangku jabatan presiden. dengan terputusnya hubungan dengan
Iran lambat laun semakin termarjinalkan bahkan negera-negara tetangga semisal
Mesir, Arab Saudi menganggap Iran terlalu arogan
Pemutusan hubungan bilateral dengan Barat dan negara sekutu menurut
Ahmadinejad adalah tindakan tepat. Perselisihan menyangkut senjata nuklir Iran
yang kerap dituduhkan Barat membuat Iran yang dikomandani Mahmoud Ahmadinejad
memproklamirkan diri sebagai negara anti Barat, bahkan menurutnya merekalah yang
membuat fitnah dan mengarang-ngarang lewat berbagai statemen agar supayaIran menjadi negara yang dibenci oleh dunia
Puncak kegusaran Mahmoud Ahmadinejad dengan Barat dan sekutunya terjadi
saat Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad yang sekaligus menjadi topik hangat
media, ketika dia menuding Israel sebagai “negara rasis” dalam pidatonya di
Konferensi Anti Rasisme PBB di Jenewa, Swiss. Para utusan negara Uni Eropa
memprotes pernyataan Ahmedinejad tersebut dengan melakukan aksi walk-out.
Masyarakatnya sendiri tak semuanya mendukung sikap radikal dan
ketegasan presiden Iran tersebut. Kaum cendekia dan tentu saja rival politiknya
menilai bahwa apa yang dilakukanMahmoud
Ahmadinejad adalah tindakan brutal dengan menyatakan warga Iran telah sekali
lagi dipermalukan di panggung internasional oleh presiden mereka
Akhirnya modal perekonomian Iran yang terkenal dengan lumbung
minyak kian hari kian meredup ditengah krisis politik kekuasaan. Dan disinyalir
Iran turut menyemarakkan sebagai salah satu negara termiskin dunia, meksi ada
spekulasi bahwa kemiskinan Iran tanpa dibayangi oleh utang ke negara lain
Terpilih Kembali
Di tengah upaya menggulingkan kekuasan konservatif dari para rival
politiknya termasuk melakuan statemen lewat oponi publik yang menyatakan bahwa
presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad telah bertindak salah dalam upaya menjalin
kerjasam dengan politiik luar negeri sehingga barakibat hilangnya martabat Iran
di mata dunia dan sekaligus menduduki
sebagai salah satu negera miskin dunia
Pada pemilu kali ini menurut situs
http://www.presstv.ir/election2009/ setidaknya ada Lebih dari 1000 kandidat
telah mendaftar diri online untuk menjadi calon presiden dalam Pemilu Iran
bulan Juni lalu. Dan tentu saja Seluruh kandidat yang beruntung adalah mereka
yang setia dan loyal pada bentuk negara Republik Islam. Namun dari ribuan
kandidat terbuat hanya Mahmoud Ahmadinejad dan Mir Hussein Mousavi yang
memiliki peluang memenangkan presiden
Ditengah derasnya black campaign atas gaya kepemimpinan Mahmoud
Ahmadinejad yang cenderung radikal dan tertutup yang diletupkan oleh rival
politiknya terutama oleh Mir Hussein Mousavi, Justru semakin meningkatan
kepercayaan masyarakat untuk memlih kembali Mahmoud Ahmadinejad sebagai
presiden. Di sini masyarakat kampungan atau grass-root berada di belakang Nejad
Terbukti pada pemilihan presiden yang dilangsungkan 12 Juni 2009
Mahmoud Ahmadinejad meraup suara signifikan sekitar 62.6 persen, mengalahkan
kandidat terkuat Mousavi yang di sebut-sebut oleh media sebagai calon terkuat
yang akan mampu menggulingkan calon presiden incumbent Mahmoud Ahmadinejad
Meski kemenangannya diikuti aksi demonstrasi besar-besaran yang
dikerahkan oleh calon kandidat kalah Mousavi karena menganggap proses pemilihan
presiden penuh dengan rekayasa
Simbol Protes Rakyat Si Neda
Gerakan rakyat Iran kini memiliki simbol dan paras, bernama Neda.
Dia adalah seorang perempuan Iran yang ditembak mati oleh milisia Basij dalam
sebuah protes yang dihadiri ribuan orang menentang hasilPemilu presiden Iran yang mengumumkan
kemenangan Mahmoud Ahmadinejad. Pembunuhannya terekam dalam video salah satu
demonstran yang kebetulan berada dekat dengan tempat kejadian perkara dan
kemudian mengunduhnya ke internet. Dia meninggal dengan kedua mata terbuka
lebar, detik-detik terakhir hidupnya mengubah media warga (Citizen Journalism)
menjadi media arus utama (mainstream media), yang menyentuh jutaan orang di
berbargai tempat.
***
Dengan terpilihnya kembali Mahmoud Ahmadinejad sebagai presiden
sebenarnya sudah ditebak bahwa raykat Iran masih mencintai dan mempercayai gaya
kepemimpinan Nejad di tengah derasnya kritik argumentasi yang dilayangkan oleh
media Barat maupun lawan politiknya. Dan tentu saja keberhasilan Nejad juga
harus dibarengi dengan pahlawan "baru" yang gugur di medan tempur si
Neda