Sebagai sebuah institusi yang berjiwa
dan berbentuk pondok pesantren, tentu misi utama dan pertama dari pondok
pesantren tersebut adalah pendidikan. Pondok pesantren bisa dibilang sebagai mubtadi’
dari lahirnya lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia yang cendrung mengikuti
pola “Barat” yang modern. Oleh karena itu, pendidikan pondok pesantren acap
kali dijuluki sebagai basis pendidikan tradisional yang merupakan khas
pendidian Indonesia.
Bahkan, CliffordGeertz
menyebutkan bahwa pendidikan pesantren sebagai subkultural masyarakat Indonesia.
Pondok pesantren berdiri sezaman dengan
masuknya Islam ke Indonesia,
dan merupakan hasil dari proses akulturasi damai antara ajaran islam yang dibawa
para wali dan pedagang yang umumnya bernuansa mistis, dengan budaya asli (indigenous
culture ) bangsa Indonesia
yang bersumber dari agama Hindu dan Budha.
Selain itu, Pendidikan pesantren
merupakan sarana yang dirancang khusus oleh para ulama’ (dulu) untuk membentuk pola fikir yang produktif dan
progresif. Dengan adanya pola fikir yang produkif dan progresif tersebut maka natinya
akan menghasilkan pribadi-pribadi unggul yang nantinya diharapkan dapat
merealisasikan sumbangsih pemikiran yang begitu besar terhadap agama dan
bangsa. sehingga Pendidikan pesantren menjadi suatu hal yang sangat urgen
sekali untuk dikonsumsi oleh berbagai kalangan khususnya di negeri kita ini, ketika
zaman sudah mulai merancang pola kehidupan modernnya seprti halnya sekarang ini.
Karena, sejarah berbicara, bahwa mayoritas mereka yang sukses khususnya di Indonesia
merupakan alumni pondok pesantren. Seperti halnya Prof. Dr. Din Syamsuddin
sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jamal D Rahman sebagai Pimpinan
Redaksi majalah sastra terpopuler di Indonesia yaitu majalah Horison, Maftuh
Basuni sebagai mentri agama dan masih banyak yang lainnya yang merupakan alumni
pesantren.
Sistem pendidikan pesantren sudah
terbukti bisa mencetak para santrinya menjadi pribadi-pribadi unggul, produktif
dan progresif. Oleh karena itu, anggapan pemerintah yang sering menganak
tirikan pesantren itu sebenarnya anggapan yang salah besar. Karena realita
membuktikan para alumni pesantren sudah banyak yang membuktikan taringnya
seperti halnya menjadi seorang politkus, penulis dan seorang pemimpin umat yang
mempunyai karismatik tinggi.
Dengan berkembangnya zaman dari tahun
ketahun, menandakan bahwa pondok pesantren itu harus mengadakan suatu penambahan
sistem pendidikan. Karena kalau tidak direalisasikan penambahan sistem
pendidikan tersebut maka pendidikan pesantren itu akan terkucilkan. Penambahan
sistemtersebut tentunya dengan tidak
menghapus kebiasaan-kebiasaan dari sistem pendidikan pesantren, yaitu seperti
keterampilan baca kitab kuning. Penambahan-penambahan sistem pendidikan
tersebut seperti halnya ilmu-ilmu mantiq dan ilmu-ilmu umum lainnya yang biasa
diterapkan di sekolah-sekolah umum pada umumnya. Pendidikan pesantren seprtiinilah
yang disebut sebagai pendidikan pesantren modern.
Sistem pendidikan pesantren modern
merupakan acuan yang harus dikembangkan. Pendidikan pesantren modern seperti
yang tercantum diatas bahwa tidak hanya mengajarkan anak didiknya supaya bisa
baca kita kuning saja dan ilmu-ilmu umum lainnya, melainkan juga diajari
bagaimana berinteraksi dengan masyarakat. Nah, inilah sebetulnya yang menjadi
corak dari pendidikan pesantren modern. Karena kita tidakmungkin menemukan sistem seperti ini selain
di pesantren modern, pendidikan diluar pesantren seperti yang kita ketahui hanya
bisa menyajikan bagaimana siswanya bisa ahli ilmu mantiq, matematika,
sosiologi. Pada dasarnya pendidikan itu bukan hanya diajarkan seperti hal itu
saja.
Kita bisa
mengambil kesimpulan, bahwasanya pendidikan pesantren modern merupakan
pendidikan yang paling komunikatif untuk dijadikan konsumsi bagi masyarakat Indonesia sehingga bangsa Indonesia dapat dibentuk menjadi
pribadi-pribadi unggul, produktif dan progresif. Oleh karena itu, seyogyanyalah
bagi kita untuk mengimplemintasikan sistem pendidikan pesantren tersebut supaya
anatomi pemerintah yang menganak tirikan pendidikan pesantren modern itu bisa terhapus di negeri Inodonesia ini.
Tulisan ini pernah dimuat Radar Madura
Kamis 15 Januari2009
*Santri Pondok
Pesantren Al-Amien Prenduan Dan tercatat sebagai Ketua Aktifis Kajian KWQ di Al-Amien.
Dan sekarang duduk di kelas V TMI (IIMA).