Sering
kali kita berdo’a meminta yang kita inginkan kepada Allah, bahkan berkali - kali
hingga tak terhitung berapa banyaknya, namun tetap tak di jawab permintaannya
oleh Allah padahal Allah berjanji dalam kitab suci-Nya “Mohonlah kepada-Ku niscaya
akan Aku kabulkan pemohonanmu”. Dari firman di atas kita bisa simpulkan bahwa
Allah itu akan senantiasa mengabulkan doa hambanya, akan tetapi yang menjadi
permasalahan kita sekarang adalah apakah do’a itu dikabulkan ketika itu juga
ataukah mungkin Allah akan mengabulkannya kelak ketika kita telah berada di
alam kubur. Kemudian ada sebagian dari manusia itu yang do’anya tidak
dikabulkan oleh Allah. Tapi kita haruslah
menkaji ulang, mengapa do’a kita tidak dikabulkan
Tentu
ada faktor-faktor tertentu yang menghambat sampainya do’a kita kepada-Nya sehingga
do’a tak bisa menembus hijab. Karna seperti yang dikatakan dalam sebuah
pribahasa; “Tidak aka nada asap tanpa adanya api”. Setiap sesuatu itu ada
sebabnya begitu pula dengan do’a yang tidak dijawab oleh Allah, tentu pasti ada
sebabnya kita harus ketahui penyebabnya agar do’a yang kita panjatkan bisa
menembus tabir dan mendapatkan yang kita inginkan. Maka salah satu sebab doa
kita tidak dikabulkan;
Yang
pertama adalah dikarenakan hati kita telah mati, dari hati yang mati tidak
ada cenel yang nyambung kepada Allah. Dari cenel yang putus tidak ada setrum.
Bagai mana ada gejala hati kita mati. Jadi, pantas doa tidak dikabulkan,
permohonan tidak dipenuhi.
Yang
ke-dua adalah kita baca Al-Qur’an tapi tidak pernah mengamalkannya, bahkan
amalannya kita injak-injak. Diperintahkan berbuat kebajikan oleh Al-Qur’an tapi
berlagak pilon, pura-pura tidak mendengar
dan bahkan menutup telinga, malah sebaliknya mereka lebih senang mendengarkan
musik, dari pada mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an.
Ke-tiga
yaitu kita mengaku ummat Nabi Muhammad tapi kita tidak pernah menghidupkan
sunnah-sunnahnya, bahkan pura-pura tidak tahu dan sombong merasa gengsi
mengekspresikannya.
Ke-empat,
kita makan kenikmatan Tuhan, tapi kita tidak pernah bersyukur atas kenikmatan
yang Allah berikan itu, bahkan kita tidak terima atas pemberiannya, dalam hadis
kudsi dijelaskan “barang siapa yang tidak
terima atas pemberian-Ku dan tidaklah bersyukur atas nikmat-Ku dan tidak sabar
atas ujian-Ku maka keluarlah dari kolong langit-Ku dan carilah Tuhan selain Aku”
Kalau kita sudah diusir oleh Allah yang maha
memiliki, memiliki langit, bumi dan segala isinya, maka kita akan ke mana? Ya,
kalau kita diusir orang tua atau mertua, kita masih bisa menemukan tempat lain
untuk bersinggah. Oleh karena itu, orang yang telah diusir oleh Allah saya kira
lebih malang dari pada kota malang!.